playlist

http://melodysale.com/search?aff=113&saff=d1_at_26t_4

Kamis, 27 Desember 2012

CERPEN


'CERPEN '
                           AKHIR PENANTIAN
Siang itu, saat pertama kali Naiza melihatnya. Ia pun bertanya dalam hati, siapa yang telah berlalu dari matanya, saat itu pun hatinya berdegup aneh, entah apa yang dirasakan ia pun tak tahu. 
" Ra..itu siapa...?"
" Mana....?"
" itu yang barusan lewat..."
" oh itu itu Raka..."
" kenapa emangnya?"
" ah ngga, aku baru lihat dia."
" masa sih diakan tinggal di sini juga, masa kamu ga tau za.."
    Naiza pun mulai mengingat-ingat teman-teman kecilnya, tapi ia tetap tak dapat mengingat siapa Raka, dan tak dapat mengingat kalau dia mempunyai teman bernama Raka. 
" Ah ga ada yang namanya Raka Ra..."
" Kamu ga inget kali..."
" Ia kali ya..."
" Kenapa.. kamu suka...Za..?"
" Iya...eh ya suka masa ga suka, masa benci sih emang tuh orang salah apa sama Naiza..ngga kan...?"
" Suka juga gak apa-apa Za..".
" Ye...udah ah yuk solat..!"
***
Dua bulan pun berlalu, Naiza pun tak bertemu lagi dengan Raka, kadang ia bertanya sendiri dalam batinnya, Kemana Raka, kenapa ga ketemu, katanya tinggal di sini, katanya orang sini tapi kenapa ga ketemu-temu ya...
Ia mulai memikirkan Raka, dan selalu bertanya-tanya dalam hati tentang Raka, namun tak pernah ia ungkapkan. Wajahnya selalu terbayang dalam benak Naiza, iapun tak menginginkan ini.
                                                                                

Ada apa denganku kenapa terus saja memikirkan Raka ? Hah Raka ...kenapa...
Malam itu malam yang sama sekali tidak Naiza duga, ia bertemu dengan Raka...
" Hai...kamu Naiza ya...pa kabar..."
 hhh " B..b...b..baik..."
" Baru ya...baru les di sini ya...?"
" Iya..." Ya ampun ternyata Raka Les di sini juga...aduh gimana dong???
Malam itu malam yang membuat Naiza tak bisa memejamkan matanya, walaupun rasa ngantuk menyelimuti dirinya. Ia terus saja memikirkan Raka. Hah...Raka les di situ, Raka...Raka kok tahu namaku ...tahu dari mana ya...setahuku kami gak pernah kenalan, tapi kok dia bisa tahu...aaaaa binguuuung.
***
Pagi hari... di sekolah. 
" Hai..."
ehhh " Hai..." Raka.....Raka menyapa ku dan senyum padaku ya ammpuuunnn aku ..aku..senang, eh kenapa aku senang...biasa saja ah...udah ah..jangan ge-er.
" Hai Za..." 
" Eh Rara.. Hai juga..."
" Ciyeee di sapa Raka..sang pujaan hati.."
" IIiiih apaan sih...pagi-pagi juga.."
" emang kenapa kalau pagi...?senang dong di sapa Raka.."
" Biasa saja tuh..."
" Biasa kok senyum-senyum, jujur aja deh kamu suka kan sama Raka..?"
" Kalaupun suka tapi Raka kan nggak suka sama aku "
" Tuh kan benar..Za suka sama Raka.."
" Iiiih Rara..."
" Tenang-tenang.. ga bakal di bocorin kok..."
***
Dua bulan tlah berlalu, hubungan naiza dan Raka cukup dekat. Mereka mulai mengenal satu sama lain. Naiza pun tahu bahwa Raka bukanlah asli penduduk situ , tapi ia dari bogor, beda kecamatan tapi cukup jauh. Dan hanya tinggal sementara di situ untuk sekolah. Raka adalah putra pertama, dari 5 bersaudara. keadaan ekonomi keluarganya sulit, kurang mampu. Raka pun bekerja part time untuk biaya hidup keluarganya dan sekolahnya. 
Dalam hati Naiza, ada satu kekaguman terhadap Raka, kekaguman yang begitu dalam hingga ia tak tahu bahwa kekaguman itu telah berhubah menjadi rasa sayang yang teramat pada Raka. Kekaguman pada kegigihan Raka, ketekunan, ketabahan dan kecerdasan yang Raka miliki telah membuat hatinya... membuat
 rasa yang berbeda, Rasa sayang.
Raka...nama itu..kenapa slalu ada di fikiranku, kenapa tiap hari aku memikirkan dia..ada rasa senang, sedih...aku bingung dengan perasaanku padanya. Aku nggak tahu ini perasaan apa, apa aku suka sama Raka..? Ah mungkin aku hanya kagum, gak lebih dari itu. Tapi kalau hanya kagum kenapa aku selalu ingat dia, saat ketemu dengannya jantungku langsung berdetak kenang, ada rasa kangen saat aku gak lihat dia beberapa hari, ada keinginan untuk selalu dekat dengannya...hoh Tuhan apa ini...perasaan apa ini...apa kah ini perasaan Ci...n..   ah nggak... nggak... gak mungkin. Raka temanku hanya temanku, titik Just friend...OK!
" Hai Za...lagi ngapain...kok geleng-geleng kepala sih..waaah konslet ya..apa murnya kendor??!!!"
" Aaaa Rara...apaaan sih...iiih "
" Sorry-sorry...kenapa sih kok bingung gitu..?cerita dong !"
"  Aku lagi bingung nih...Ra..kok ..."
" Appa...soal Raka..? kalo menurut aku sih kamu lagi fall in love with Raka "
" Hah...kok langsung ngambil kesimpulan gitu sih..aku kan belum selesai ngomongnya.."
" Yeeei...dari wajah dan mata Za aja aku tuh dah tau kalo kamu lagi fall in love...  za...kenapa sih kamu kok slalu nyangkal sama perasaan kamu, slalu ingkari hati kamu... sekarang coba Za tanya lagi dalam hati Za 'teman apa demen'? kalau Za masih bingung coba Za pejamin mata Za ...siapa yang ada di situ, yang ada dalam benak Za..?"
Za mulai memejamkan matanya…
" Ra..aku..aku...suka..."
" Hanya suka..??"
"Aku ..sa..yang.."
" Nah gitu dong gantle...itttu baaaru nama za..!"
" tapi aku takut Ra...aku takut..aku tahu aku bukan orang yang ia suka, aku bukan siapa-siapa, aku gak cantik, aku ..banyak kekurangan, sedangkan dia...pinter, cakep...dan ini-itu... Raka gak mungkin suka sama aku, aku takut Ra aku takut..."
" Za...gak semua yang ada di dunia ini sempurna, Tuhan menciptakan kita dengan kelebihan dan kekurangan, setiap orang pasti ada kelebihannya. walaupun Za merasa Za punya kekurangan tapi Za nggak boleh merasa rendah, Tuhan memberi kelebihan agar dapat melengkapi dan menutupi segala kekurangan yang ada. Za..lagian gak semua laki-laki seperti yang Za pikir mencari  kesempurnaan atau kecantikan saja, lagian Za juga lumayan kok gak jelek-jelek amat, he he.  Aku yakin Raka bukan orang yang seperti itu, aku yakin Raka bisa lihat kamu dari sisi yang berbeda, Raka pasti dapat menemukan sisi terindah kamu Za. Dan aku yakin kalau Raka juga suka sama Za."

" Tapi...aku takut.."
" takut apa ..takut kecewa...? Za..kalau kamu berani jatuh cinta kamu juga harus berani menderita karena cinta. Za..mengakui atau mencintai seseorang itu gak salah, tapi kalau Za gak mau, Za bisa mengubah cinta itu menjadi cinta pada sahabat. Za pilih yang mana, kalau Za pilih cinta pada Raka sebagai seorang laki-laki, Za harus siap sakit, kecewa, dan yang gak enak lainnya. Ya...walaupun tuk mengubah itu gak gampang, tapi dua-duanya baik...menurutku"
" Aku ..pilih mencintainya"
" titik..apa masih ada lagi..?"
" Titik"
" Nah gitu dong..., trus kapan kamu mau bilang ke Raka.."
" Aku gak akan bilang.."
" Apa..???jadi buat apa dong? "
" Ra...aku gak berani...aku malu...masa cewek nembak cowok sih...gak etis ah.."
" Oooh ya udah ..kalo gitu.."
" tapi mau sampai kapan kamu nunggu dia.."
" ga tau.."
******
Setahun pun telah berlalu, dan Za masih pada perasaannya yang dulu, Za masih menunggu Raka, menunggu jawaban yang tak pernah ia tanyakan langsung pada Raka, menunggu jawaban dari segala pertanyaan hatinya. Kedekatannya dengan Raka ia rasakan begitu dalam bahkan teramat dalam. Raka seolah merespon semua yang Za lakukan untuknya, Raka memberikan perhatian yang lebih pada diri Za, memberikan segala sesuatu yang utama untuk Za. Ya...Raka pun menyukai Za, menyayangi Za. Namun Raka tak mampu mengatakan pada Za, bahwa ia menyayangi Za. Ia hanya berusaha memberi yang terbaik yang bisa ia berikan untuk Za, sebelum ia pergi meninggalkannya, ke Bogor.
Kami tlah lulus dari smu, kira-kira Raka kembali ke Bogor gak ya..trus kalau Raka kembali ke Bogor, gimana...aku belum siap, belum siap. Ah kenapa ngo mong kayak gini, mudah-mudahan dia masih akan tinggal di sini, udah ah aku mau berangkat les.
Za pun berangkat ke tempat les, matanya berkeliling ke tiap sudut. mencari seorang yang di kasihinya,  Biasanya Raka sudah datang, bahkan slalu menyambut Za di gerbang. 
Raka kemana ya..kok gak kelihatan...batin Za
" Hai Za....."
hhh" Ra...eh Abid.."
" Eh Za, elo dah tau kan? Raka udah pindah ke Bogor...sayang ya padahal dia kan andalan contekan gue..."
" Apppaa..Raka pindah...ke Bogor.?"
" lho.. elo belum tau Za...?"
" A..aku...Ra..ka.." Wajah Za mulai memerah, matanya pun mulai berkaca-kaca, ia pun segera berlari, berlari dari tempat itu.
Raka...kenapa..kenapa Raka pergi? Kenapa Raka nggak bilang ke aku kalau pergi ke Bogor kenapa Ka kenapa...??Aku benci Raka ...aku benci...kenapa Raka pergi...kenapa.....??
Za pergi kerumah kontrakan Raka, dan memang terkunci, tidak ada yang menjawab salam Za, dari dalam, 
" Raka...salamu'alaikum"
" Wa'alaikum salam, mencari Raka ya...Raka sudah pindah ke Bogor.." tetangga raka menyahut
" Ke Bogor..kapan mba'?"
" Tiga hari yang lalu.."
Raka...
Za pun berlalu, berlari dengan rasa sakit dalam hatinya. 
(rara sedang berjalan dan melihat Za menangis)
" Ra..ra…."
" Lho...Za kamu kenapa..."
" Ra...Raka Ra...Raka...."
" Kenapa Raka..ada apa? Kenapa kamu nangis? .Za tenang Za..tenang..!"
" Raka pergi..Raka pergi ke Bogor..aku baru tahu tadi dari Abid, aku gak kuat nahan ini Ra...aku sedih..hati aku sakit..."
" Za...."
Rara memeluk Za, yang menangis sejadi-jadinya dan merasakan semua kesedihan za, merasakan air mata yang mengalir ke pundaknya. Za menangis dalam pelukan Rara, sahabat terbaiknya. 
***
Sudah hampir  setahun, setelah kepergian Raka, Za seperti bukan dirinya yang dulu. Za berusaha menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang yang menyita semua tenaga dan fikirannya. Hanya untuk melupakan Raka. Setiap kali ada kesempatan untuk mengingat Raka ia berusaha menyibukan diri dan fikirannya. Hari-harinya ia buat sesibuk mungkin tapi saat malam tiba, air mata selalu mengalir di pipinya, ia tak pernah bisa melupakan Raka, tak pernah bisa untuk tak merindukannya, 
Raka...kenapa...kenapa gak bilang...kenapa gak pamit, setidaknya kalau Raka pamit aku gak akan seperti ini. 
Ka...izinkan Za tuk slalu sayang sama Raka, tuk slalu rindu pada Raka. Za tahu Raka ga suka, gak sayang, gak kangen, bahkan untuk pamit sekalipun sama Za gak. Raka...Za akan nunggu Raka..nunggu Raka untuk hadir kembali dalam hidup Za, dan memberi jawaban dari semua pertanyaan Za selama ini. Ka..kalau Za tahu perasaan Raka yang sebenarnya pada Za, Za akan berhenti nunggu Raka. Penantian za akan berakhir saat itu, saat Raka jawab semua pertanyaan Za. Ka..

***
" Za...gimana kabar Za sekarang?"
" Eh..Rara...baik kok..aku baik dah semakin baik"
" Syukurlah. Za..."
" Aku ga apa-apa kok Ra, Ra tahu.... aku akan nunggu Raka, sampai aku tahu jawaban dari semua pertanyaan aku "
" Za..mau sampai kapan kamu nunggu dia..aku gak bisa ngebiarin kamu kayak gini terus..belakangan kamu nangis, menyibukkan diri kamu sampai kamu sakit, sekarang..kamu akan nunggu dia..."
" Ra..aku  mohon..dukung aku, dukung aku tuk nunggu Raka, karena hanya kamu yang ngerti perasaan aku..aku mohon Ra.."
" Za...aku akan dukung kamu, selalu...dan aku yakin dalam waktu dekat ini Za akan dapatkan semua jawaban dari semua pertanyaan Za selama ini"
" Ra...makasih...makasih karena Rara slalu dukung aku...slalu ada saat aku sedih"
*****
" Hallo..."
" Bisa dengan Za..."
" Iya dari siapa.." Kenapa suaranya mirip Raka
" dari Raka.."
Appa Raka...ya Tuhan Raka...aku..aku ga percaya
" Raka...iya inni Zza.." tak terasa air mata pun mengalir di pipi Za, rasa haru rasa sedih rasa rindu, rasa bahagia kini selimuti dirinya.
" Za..apa kabar..."
" Raka...Raka jahat, kenapa Raka pergi..kenapa Raka gak pamit ke aku. Raka jahat.." sambil menahan tangis, Za mengatakan apa yang ada di pikirannya saat itu
" Maafin Raka...maaf karna Raka ga pamit, bukan Raka ga mau pamit, tapi Raka ga sempat, Raka buru-buru"
" Kenapa yang lain tahu, tapi Za gak tahu..."
" Za kamu kenapa? kamu nangis? Za maaf.. yang tahu cuma Abid, karna dia tetangga Raka" Raka gak mau kamu tahu Za, Raka ga sanggup tuk pamit sama kamu.
" Aku..aku senang Ka..aku senang Raka telpon aku. Maaf..maaf.. aku ngomel-ngomel!"
.......
Malam itu malam yang benar-benar membuat hati Za senang, tapi juga sedih. Saat orang yang dikasihinya menelpon Za untuk yang pertama kali.
Sebulan atau dua bulan sekali Raka menelpon Za. Tiap dering telpon Za selalu mengira itu dering telpon dari Raka. Za sangat mengharapkan Raka. tapi sudah hampir empat bulan ini Za kembali kehilangan kabar dari Raka. Di SMS pun tak ada balasan. Za kembali dalam kesedihannya.
" Ra...aku kangen sama Raka, dia kok gak telpon atau balas sms aku ya..?"
" ga da pulsa kali..."
" Ra..apa Raka mainin perasaan aku..?"
" Lho kok ngomongnya begitu sih..."
" Ra..aku benar-benar berharap sama Raka, aku benar-benar senang saat Raka telpon aku, aku benar-benar sayang sama Raka...tapi kenapa dia gak  ngasih kabar lagi ke aku..aku sedih Ra.."
" Za..dia akan ngasih kabar lagi kok, mungkin dia ga sempat, atau lagi ga punya uang buat nelpon. Aku yakin dia akan hubungin kamu lagi, jangan sedih ya...!"
" Iya..makasih ya Ra.."
Tanpa sepengetahuan Za, Rara mengirim sms pada Raka 
 Ra..aku benar-benar berharap sama Raka, aku benar-benar senang saat Raka telpon aku, aku benar-benar sayang sama Raka... tapi kenapa dia gak ngasih kabar lagi ke aku...aku sedih Ra..  Raka tahu siapa yang nulis sms ini ?, ini sms dari Za, Naiza. selama ini Za nunggu Raka, Ia dengan setia nunggu Raka. Mau sampai kapan Raka ngebiarin ini semua? Rara udah ga kuat lagi ngelihat Za kayak gini, dia sedih. Kenapa Raka datang dengan ngasih dia harapan trus Raka pergi tanpa jejak, tanpa satu ucapan pun, bahkan ucapan selamat tinggal sekalipun ?Rara mohon Raka telpon Za, kalau memang ini yang terakhir, biarlah Za tau ini yang terakhir kalinya. Ra mohon jangn biarin Za ngegantungin harapan, jangan ngasih harapan kosong untuk Za, Za gak pantas dapat harapan kosong dari Raka atau dari siapa pun. Ra mohon Ka...telpon Za!

Za..jadi selama ini za suka sama aku, za sayang aku...Za.. (batin Raka)

Triiiing
" Hallo"
" Halo Za..."
" Raka.."
" Za, Raka pengen ketemu..."
" Raka dimana sekarang?"
" Di Bogor, kamu bisa khan?"
" Iya.."
" Besok Raka ke sana, kita ketemu di tempat biasa, bisa khan?"
" Iya.."
" Za..."
........
Untuk yang kesekian kalinya, Za tidak bisa memejamkan matanya, tak bisa tidur. 
Raka...pengen ketemu..ada apa.....(batin Za)
***
Selangkah demi selangkah Za mengayunkan kakinya menuju tempat dimana seorang yang di kasihinya, yang di rindukannya selama ini ada di tempat itu. Hatinya berdegup tak karuan, penuh tanda tanya, pertanyaan-pertanyaan satu persatu hadir di benaknya. Kini Za ada di pintu gerbang tempat mereka bertemu. Langkah Za terhenti dan mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan ia mulai menatap lurus ke depan. tak pernah ia bayangkan akan bertemu kembali dengan Raka. Dipandangnya seorang yang telah berdiri di hadapanya agak jauh, wajah Za mulai memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Za menahan tangis.
Raka...                                       
Za mulai melangkah setelah cukup lama ia berdiri dan memandang sesosok lelaki yang ada di hadapannya. 
" Za..apa kabar.."
" mmm..baik" Suara Za bergetar menahan tangis
" Ke sana yuk duduk di sana" Raka menunjuk satu tempat 
Mata Za pun mengikuti arah telunjuk Raka
"Iya.."
Raka dua langkah di depan Za, Za sesekali mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Za memandang pungung Raka, tak percaya bahwa yang di depannya, yang di hadapannya adalah Raka, orang yang selama ini ia rindukan, ia sayangi dan ia tunggu
" Za...mau baca sms ga?"
" hmm sms.??"
"Iya...Raka dapat sms semalam...Raka kaget, Raka gak percaya...makanya Raka ingin tanya langsung, benar apa nggak. Ini..."(Raka memberikan HP pada Za dengan memandang mata Za, merekapun saling bertemu mata.
" Innni..., Rara..."
" Iya..jadi...benar??"
Za terdiam dan tak lama ia pun menganguk
" Iya.."
" Maafin Raka, Raka gak tahu kalau Za juga suka ama Raka, Raka nggak tahu, Za..maafin aku"
" Juga..??"
" Iya ..Raka juga suka Naiza, sejak awal ketemu, Raka sudah suka, sempat saat itu Raka ingin ungkapkan perasaan Raka, tapi Raka nggak sanggup, Raka nggak bisa. Za tahu khan siapa Raka, bagaimana keluarga Raka, bagaimana keadaan Raka, bagaimana ayah Raka? Za..saat Raka ingin ungkapin itu, Raka ingat keluarga Raka, adik-adik Raka. Raka gak bisa untuk senang-senang tapi keluarga Raka kesusahan, susah. Keluarga Raka susah, kurang mampu. Raka masih punya tanggung jawab sama keluarga Raka, ayah Raka gak bisa di harapkan, ayah raka gak bertanggung jawab sama keluarga, jadi Raka yang menggantikan tanggung jawabnya . Raka harus konsentrasi kerja untuk biaya adik-adik Raka, keluarga Raka. Za..kalau saja keluarga Raka normal kebutuhan sehari-hari terpenuhi, Raka ada di sini, mungkin keadaan nya akan beda. Kita bisa menjalin hubungan itu, tapi keadaan Raka gak seperti itu. Raka harus banting tulang untuk keluarga Raka, untuk adik-adik Raka. Setelah semua terpenuhi baru Raka akan cari pasangan hidup Raka."
" Za tahu itu..tapi Za tetap sayang Raka, Za akan nunggu Raka"
" Za...Makasih karena Za sayang sama Raka, tapi Raka gak bisa. Raka gak tahu sampai kapan Raka harus begini. Raka gak tahu kapan keadaan keluarga Raka normal kayak keluarga yang lain. Raka gak mau mengikat Za, Raka gak akan bisa membahagiakan Za, gak akan bisa Za, gak bisa kayak laki-laki lain, yang bisa menghubungi pacarnya, setiap saat, setiap waktu. Za tahu khan suatu hubungan akan berjalan baik kalau komunikasi berjalan baik juga. "


" Ka.."
" Za...Raka sayang, Raka suka sama Za, Tapi Raka gak bisa. Raka gak bisa ngejalin hubungan itu. Za..Raka mohon jangan tunggu Raka...Za bisa lebih bahagia dengan yang lain. Pasti ada yang jauh lebih baik dari Raka, yang akan membahagiakan Za "
" Iya...pasti ada yang jauh lebih baik dari Raka" kembali jawaban Za bergetar menahan tangis
" Za..maafin Raka. Za..kita apa.."
" Kita...te..mman"
" Za gak marah khan?"
" Nggak Za nggak marah, Kalau itu yang terbaik untuk Raka, mungkin itu juga yang terbaik buat aku"
" Za...untuk yang terakhir kalinya, Raka...Raka sayang, sayang sama Za"
" Za Juga, Raka hati-hati ya! Makasih..makasih " Makasih karna udah ngasih jawaban untuk aku, jawaban yang selama ini aku tunggu, walaupun bukan ini yang aku inginkan. tapi makasih Ka..makasih.

Za..maafin Raka...maaf... Raka sayang Za..sangat 
.............
*****
Ka....bila itu yang terbaik untuk Raka, Za akan jadikan itu kenangan yang terindah dalam hidup Za. Tapi Za mohon...gak semudah itu buat tinggalkan semua jejak hidup Raka, yang telah terukir dalam hati Za sebagai kenangan yang terindah.
Ka...makasih...makasih                         .
Za dapat semua jawaban dari pertanyaan Za selama ini, dan seperti yang sudah Za bilang, saat jawaban itu Za dapat, saat itu juga adalah akhir dari penantian Za pada Raka.

Za Tahu dengan pasti bahwa ia tak mungkin dengan mudah melupakan Raka. Bahkan ia tak mampu untuk mengatur hatinya untuk tak berharap pada Raka. Dalam Hati yang paling dalam masih tersimpan setitik pengharapan pada Raka. 



Fin 
27 April 2006 








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar